Rabu, 14 Desember 2011

Makna Cinta Yang Sesungguhnya (Bagi Saya).-terinspirasi oleh kuliahnya Pak Ainur-.


Seandainya saya mengatakan 'I Love You' kepada seorang teman pria, apa yang akan terjadi? Mungkin ia akan lari terbirit-birit sambil ketakutan. Ia mungkin menduga saya homosex dan tak mau lagi berteman dengan saya.

Memang, selama ini kita sepertinya telah memaknai CINTA secara amat khusus. Cinta kita persepsikan sebagai rasa tertarik dan hubungan asmara antara dua manusia yang berlainan jenis. Maka, ketika ada seorang pria yang menyatakan cinta pada pria lain, maka gegerlah dunia.

Padahal, kita juga sering mengatakan cinta pada ayah kita, ibu kita, kakak kita (yang masih sejenis dengan kita), adik kita, dan seterusnya. Kita juga sudah tidak asing dengan slogan "Aku cinta buatan Indonesia".

Jadi, benarkah pengertian cinta sesempit itu? Hanya sebatas rasa saling tertarik dan kasmaran antara dua orang yang berlainan jenis?

Menurut saya, kondisi seperti yang saya gambarkan pada alinea pertama di atas, sebenarnya hanya masalah pembiasaan. itu adalah reaksi spontan yang merepresentasikan pola pikir kita selama ini yang terlalu sempit dalam mengartikan cinta (terus terang, saya sengaja memulai artikel ini dengan cerita seperti itu, bertujuan untuk men-brainstorming pikiran kita).

Padahal, kalau pola pikir kita mengenai cinta memang benar-benar pada porsinya, saya yakin reaksi seheboh itu tak akan terjadi. Kita pun merasa amat bebas untuk menyatakan cinta pada siapa saja, laki-laki maupun perempuan.

* * *

Beberapa tahun lalu, seorang teman (wanita!) menyatakan cintanya pada saya. Ia berkata. "Saya mencintai Pak Yogi karena Allah."

Apakah si teman ini benar-benar naksir saya? Apakah dia ingin menikah dengan saya?

Saya tak mau berpikir macam-macam. Sekadar info, si teman ini sudah menikah. Setahu saya pula, ia memiliki akhlak yang sangat mulia. Jadi mustahil rasanya jika ia mengumbar rasa ketertarikannya pada seorang pria dengan cara yang amat murahan. Saya percaya, pernyataan cintanya itu memang benar-benar cinta yang tulus, cinta yang lahir dari rasa cinta yang hakiki. Cinta kepada Allah.

Yup, cinta kepada Allah. Itulah intinya.
Ini adalah cinta sejati, cinta yang sebenar-benarnya. CINTA HAKIKI, demikian kata RAIHAN dalam lagu nasyidnya.

Dengan menempatkan Allah sebagai Zat yang paling kita cintai, maka cinta kita terhadap selain DIA hanyalah turunan dari si CINTA HAKIKI tersebut. Artinya, kita mencintai makhluk tertentu karena memang diperintahkan oleh Allah. Saya mencintai istri saya karena memang diperintahkan oleh Allah. Saya mencintai para tetangga, baik laki-laki maupun perempuan, karena Allah memang memerintahkan kita untuk mencintai sesama manusia.

Dalam konteks inilah, saya bisa menerima dengan wajar ketika teman wanita tersebut "menyatakan cinta" pada saya. Saya yakin, dia pun memiliki persepsi yang sama mengenai cinta. jadi, saya merasa tak perlu ge er atau bingung oleh pernyataan cinta itu.

* * *

Saya pernah mendengar sebuah "definisi" cinta yang sangat bagus (tapi lupa sumbernya). Saya amat kagum dengan definisi ini, bahkan hingga kini saya jadikan salah satu patokan dalam mengartikan cinta.

Kata definisi tersebut, ada dua unsur di dalam cinta, yakni:
1. keinginan untuk memiliki
2. keinginan untuk membahagiakan

Keinginan untuk memiliki akan melahirkan gejala-gejala seperti cemburu, posesif, dan seterusnya. Intinya, kita tidak akan memperbolehkan orang lain untuk memiliki orang atau apapun yang kita cintai. Biasanya, perasaan yang seperti inilah - jika berlebihan - yang kerap melahirkan pertengkaran bahkan peperangan (jadi, siapa bilang cinta tidak bisa melahirkan konflik dan peperangan?).

Pada novel Cinta Tak Terlerai saya mencoba mengcounter "keinginan untuk memiliki" ini lewat sebuah paragraf berikut:

"mustahil bagi seseorang untuk memenjarakan jiwa orang lain. Kamu bisa memiliki fisik seseorang, membayarnya untuk melakukan apa saja yang kamu mau, atau menjadikan tubuhnya budak nafsumu. Tapi kamu tak akan pernah memiliki jiwa siapapun, walau dia adalah anak kandungmu sendiri." (halaman 134)

Sedangkan keinginan untuk membahagiakan akan melahirkan kedamaian di muka bumi ini. Kita tak akan marah atau kecewa jika orang yang kita harapkan menjadi istri, justru menikah dengan orang lain. Kita justru bahagia karena kita percaya, itulah yang terbaik bagi dia. "Mungkin jika menikah denganku, dia tidak akan bahagia."

Keinginan untuk membahagiakan ini juga bisa menjadi energi positif yang luar biasa. Kita jadi suka menolong orang lain. Sebab itu akan membuat mereka bahagia. Jika mereka bahagia, kita pun ikut bahagia. Sifat iri, dengki dan seterusnya, pun dapat lenyap dari muka bumi ini.

* * *

Dalam konteks seperti itulah, saya percaya bahwa cinta pun banyak macamnya. Cinta saya pada istri sendiri tentu berbeda dengan cinta terhadap istri tetangga. Hehehehe.... Untuk cinta terhadap istri sendiri, tentu dihalalkan jika ada keinginan untuk memiliki (tapi tentu tetap dalam batas yang wajar). Sedangkan cinta terhadapa istri tetangga, juga terhadap manusia-manusia lainnya, yang harus kita kembangkan adalah keinginan untuk membahagiakan.

* * *

Maka dengan konsep cinta seperti itu, saya merasa tidak canggung atau ragu untuk "mengobral cinta" pada siapa saja. Justru, saya ingin mencintai setiap orang, siapapun dia. Termasuk orang yang memusuhi saya, atau orang yang beda haluan dengan saya.

Memang, saya belum berhasil mempraktekkannya. Masih sulit. Tapi saya ingin terus berusaha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar